Minggu, 13 Maret 2011

TANGAN DAN KETAPEL

Sehari lalu, semalam saja, dipantai yang selalu menjadi saksi. Sekumpulan mahasiswa yang menamakan dirinya anak Ideologis Muda Muhammadiyah berdialektika menemukan formulasi yang tepat untuk kinerja setahun ke depan. Wajah santai, penuh canda tawa, serius dalam berpikir mewarnai forum Musyawarah Bersama Komisariat yang diadakan di Tanjung bayam, 12-13 Februari 2011.



Sesuai tema “membanting kemurungan, gelorakan semangat. Panca Raga Eka Jiwa”, Musykom kali ini mengisyaratkaan sebuah kondisi kritis yang membayangi eksistensi IMM mazhab Tamalanrea (istilah sahabat). Kondisi lima komisariat ibarat jari-jari tangan yang merenggangkan genggaman karena sudah “termakan usia”. Sejatinya, ghirah serta cita-cita membangun kembali kejayaan historis yang sempat tertidur tak pernah padam. Kita hanya perlu saling mengingatkan bahwa perjuangan itu indah. Upacara pembukaan yang sempat larut tidak menurunkan semangat karena dibalas dengan makan malam yang hangat dan lezat. Hadir pula Immawan-Immawan dari beberapa komisariat universitas lain, Cabang, dan SC. Pidato iftitah dari Pimpinan Cabang dan Koordinator Komisariat dan diselingi canda dari para musyawirin memecah kebisingan pantai.



Agenda berikutnya pembacaan tata tertib dengan sedikit perubahan dari para musyawirin tentang penggunaan pilihan kata. Tidak substansial namun penting katanya, contohnya antara akronim PK dan Pikom mana yang lazim digunakan atau sesuai dengan tanfidz. Apapun akronimnya, yang penting orang paham maknanya (seperti iklan produk). Berlanjut ke LPJ pertiap komisariat. Di awali oleh Pikom Eksotik yang diwakili oleh Ketum dan Sekum. Bahasa yang digunakan singkat, menghibur, intektualment, dan inti pokoknya menpertanggung jawabkan apa yang sudah atau belum dilakukan. Diteruskan oleh Komisyariat Hukum dan Ilmu Budaya. Untuk Komisariat ATM dan Komisariat Medik diwakili oleh Koordinator Komisariat karena berhalangan hadir. Beberapa pertanyaan mucul untuk menggugat, mengagumi serta memberika konsep ideal kepada tiap-tiap LPJ namun tetap santun, sopan dan menggelitik sesuai ciri khas IMM Unhas.



Malam ahad itu telah mencatatkan rekor Muri bahwa untuk pertama kali sejak keruntuhan telah terjadi deadlock di forum IMM Unhas. Sebuah pergulatan ide, penyamaan konsep serta solusi untuk masalah yang terlontar. Ini bermula dari penyampaian BP yang kala itu diwakilkan oleh Koordinator Komisariat karena ditunjuk langsung oleh SC. Apakah IMM Unhas akan tetap berlima raga atau berdifusi menjadi satu kekuatan. Betul-betul ruangan ini dipenuhi argumentasi yang sama-sama kuat untuk berada pada posisi masing-masing. Hanya saja kita harus melihat masalah ini secara paripurna tidak parsial. Dimana letak masalah inti dan apa-apa saja masalah turunan, karena selain itu banyak hal yang harus dituntaskan. Sekali lagi, Pekerjaan rumah masih menumpuk.



Akhirnya forum ini berdialektika hingga shubuh dan dilanjutkan pukul delapan pagi. Namun hingga “peluit” panjang tanda skorsing sidang berbunyi hingga perpanjangan waktu, kami belum menemukan titik temu antara beberapa pilihan praksis. Ternyata pemilik pondok sedang menunggu bayaran dan mengingatkan bahwa batas pemakaian hingga pukul Sembilan pagi. Sehingga SC memutuskan untuk menunda beberapa agenda hingga batas waktu yang tidak ditentukan dan sepenuhnya berada pada tangan PC IMM Makassar.



Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Musykom kali ini. Jangan terlalu lama berkontemplasi dan Kita seharusnya bersyukur memiliki ladang untuk beramal dan silahturahIMM. Intinya adalah kita harus bisa mewarnai dalam bingkai trilogy gerakan sebagai ciri khas ikatan. Dalam proses panjang ini kita telah menyusun mozaik-mozaik kemenangan. Tetap semangat karena lelah adalah hadiah.



Billahi fi Sabillihaq, Fastabiqul Khairat. Jayalah IMM Jaya!

Citizen Reporter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar